Ketinggalan Pesawat dan Half Road Trip Jakarta – Mataram

Sampai saat ini berangkat ke bandara selalu sukses bikin saya deg – degan, bukan apa – apa, ogah aja ketinggalan pesawat. Tiket memang bisa di refund, tapi jadwal perjalanan molor pasti bikin ngga enak.

Traffic menuju Bandara Soekarno Hatta memang paling bikin jantungan, ngga bisa diprediksi. Demo, banjir, dll selalu sukses membuat kemacetan. Apalagi mengingat rumah saya jauh di Kabupaten Bogor sana, lebih baik nunggu di bandara berjam – jam daripada telat.

Tapi gimana dong kalau ke bandara-nya pulang kantor alias baru bisa berangkat jam 5 sore dan flightnya jam 8 malam ? Teorinya sih harusnya ga telat ya, seharusnya TB Simatupang – Soekarno Hatta bisa ditempuh dalam 1.5 jam saja, tapi ternyata ….

Sore itu teman saya Ria sudah standby di taksi, menjemput saya ke kantor dan siap berangkat ke bandara. Waktu menunjukkan jam 5 kurang, seharusnya saya sudah bisa kabur. Tapi ternyata ada 1, 2 , 3, 4 dll hal yang harus diselesaikan dulu. Menjemput Cici di daycare dan akhirnya kami bertiga duduk manis di taksi bersama 2 carrier besar, 2 daypack, 2 travel bag jumbo dan 2 travel bag mini.

Jam 5.30 kami meninggalkan parkiran dan keluar gerbang..ternyata macet. Bukan macet yang biasa dan sukses membuat shock luar biasa. Saya meminta supir taksi memutar balik dan mengambil jalan potong di belakang kantor saya agar bisa langsung masuk tol di Pasar Minggu. Lancar sebentar dan kemudian berhenti total..dududu, betul – betul tidak ada yang bisa diperbuat, maju mundur diam. Sesaat kami panik tapi kemudian santai, ah tenang..pesawatnya pasti delay seperti biasa. Masih sempatlah, kamipun sejenak melupakan kemacetan dan asik ngobrol.

Jam 6.30 kami baru masuk tol Pasar Minggu. 1 jam untuk menunggu dalam kemacetan. Suami saya menelpon menanyakan kabar, dan ikut panik mendengar kami baru masuk pintu tol. Supir taksi tanpa diperintah langsung injak gas menuju tol BSD. Dalam hati saya juga panik, kalau sampai ketinggalan pesawat gimana ya ? dan lagi – lagi dengan tenangnya kami bilang : tenang, pesawatnya pasti delay.

Jam 7.30 kami memasuki tol bandara, strategi mulai disusun. Normalnya kami sudah tidak bisa check in. Penerbangan domestik akan menutup counter check in 30 menit sebelum keberangkatan. Tapi ya dicobalah, mau gimana lagi. Ria akan bergegas turun membawa tiket dan memastikan kita bisa check in, sedangkan saya akan mengatur barang bawaan, bagaimanapun ngga mungkin tas tas besar nan lucu ini kita tinggal.

Jam 7.50 kami tiba di terminal 1A, sesuai rencana Ria langsung berlari. Dibantu supir taksi saya menurunkan barang – barang, memanggil porter dan menggendong Cici yang tertidur. Harap harap cemas menunggu kabar dari Ria, walaupun jelas terdengar public announcement, panggilan terakhir penumpang pesawat dari Jakarta tujuan Lombok. Hingga akhirnya HP saya berbunyi, panggilan masuk dari Ria : “Udah ngga bisa Mba, udah final call“. Haha ya sudahlah, kami ketinggalan pesawat, tiket promo kami hangus, tidak bisa di-reschedule dan hanya bisa refund 10%.

Strategi berikutnya dilancarkan, Ria menggendong Cici sambil menunggu barang dan saya mencari tiket. Tujuan pertama Lombok, besok pagi pun tak apa. Kami rela semalaman tidur di bandara. Tapi ternyata oh ternyata, tidak ada. Semua full sampai 1 minggu kemudian, bahkan ke Bali-pun tak ada. Para calopun menyerah, bisa – bisanya mereka ga punya tiket. Kalaupun ada mereka menawarkan tiket malam ini ke Surabaya naik Garuda last flight yang harganya 2.5 juta per orang. Hadeuh, mending saya pulang Om.

Jam 8.45, di depan counter Citilink di terminal 1C, akhirnya saya berkenalan dengan calo yang menawarkan tiket ke Surabaya dengan harga lebih murah daripada di counter. Last flight jam 09.40 hanya 800 rb saja, sedangkan di counter harganya 1.1 juta. Ya sudahlah sepertinya itu pilihan terbaik, daripada ngga ada kan.

Jam 9 malam, saya kembali ke terminal 1A, menjemput Cici dan Ria. Kembali ke terminal 1C dan beli tiket untuk Cici di counter Citilink, 750 rb. Lagi – lagi public announcement memanggil penumpang ke Surabaya. Haduh, panic attack lagi, jangan sampai dong ketinggalan pesawat keduakalinya.

Ditemani rekanan calo (baca : petugas bandara) kami serasa pejabat dikawal naik pesawat. Tiket atas nama Winarto, haloooo Ibu Winarto, bagasi segambreng bisa check in, sampai motong antrian bayar airport tax πŸ™‚ maafkan kami Bapak Ibu ho ho.

Bapak petugas yang saya lupa namanya itu benar – benar memastikan kami naik ke pesawat, sempat – sempatnya bersalaman dan pamit. Haha, pertama kalinya saya benar – benar bersyukur tinggal di Indonesia dengan segala keajaibannya.

Pesawat berangkat tepat waktu, syukurlah. 1 jam penerbangan ke Surabaya kami pakai tidur, Cici untungnya juga tertidur setelah protes kelaparan dan ngga dapat makan di pesawat. Maafkan Bunda Nak.

Jam 11.40 kami tiba di Djuanda, Surabaya. Setengah memaksa saya membangunkan Cici yang tertidur nyenyak, untungnya anak baik mau bangun sendiri dan berjalan kaki. Ria mengambil barang dan saya mencoba mencari rentalan mobil di luar. Taksi resmi bandara pasang tarif 950 rb ke Banyuwangi, terlalu mahal. Lagipula kami ngga yakin naik sedan untuk perjalanan malam keluar kota, barang banyak pula.

Seorang Mas – mas menawari saya rental mobil avanza, 900 rb – 800 rb – 700 rb dan akhirnya saya berhasil di harga 650 rb. Kami segera menuju parkiran, loading barang dan duduk manis di dalam mobil. Ngga pakai lama mobil segera meluncur meninggalkan bandara, tiba di kantor travel dan kami disuruh pindah mobil..lho lho apa maksudnya nih. Tadi di bandara kami dijanjikan hanya memakai mobil ini untuk kami bertiga, tiba – tiba sekarang kami disuruh pindah mobil dan ada 1 penumpang tambahan.

Jam 00.30 dan saya malah debat kusir dengan bapak – bapak pengurus travel, pasalnya saya minta turun harga, minimal sama dengan harga yang dibayar Mas – Mas penumpang tambahan, 150 rb seorang. Bapak travelnya menolak, alasannya tadi sudah deal di 650 rb. Lha tapi kan ngga pakai ada tambahan penumpang Pak. Akhirnya setengah kesal (sepertinya hehe) mereka setuju di harga 550 rb untuk kami bertiga. Baiklah. O iya, ternyata Gantara Tour&Travel ini bisa dipesan lewat telpon lho, lumayan juga kalau kapan – kapan perlu. Nomor telponnya : 031-31120164. Alamatnya di By Pass Juanda Baru no 9. Nanti bisa janjian dijemput di bandara juga.

Perjalanan dimulai, tujuan kami kali ini adalah Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, ujung timurnya Pulau Jawa. Menurut Pak Supir kami bisa tiba sekitar jam 5 – 6 pagi. Beruntunglah Mas Mas yang tadi sempat kami jutekin ternyata orangnya baik, sepanjang perjalanan dia berusaha mengajak kami mengobrol, dan yang lebih penting juga mengajak Pak Supir mengobrol, biar ngga ngantuk.

Sekitar jam 2 malam mobil berhenti sebentar untuk makan malam, akhirnya. Cici sudah tertidur, padahal dia kelaparan. Akhirnya hanya kami berdua yang makan, Ria pesan nasi pecel ayam dan saya pesan capcay. Lumayan enak juga dan ngga terlalu mahal.

Jam 5 pagi kami tiba di Glenmore, Banyuwangi. Lucu ya namanya Glenmore, matahari sudah tinggi sekali. Dan ternyata pemandangan di luar indah sangat. Belakangan saya baru tahu, ternyata nama Glenmore ini diambil dari nama perkebunan tembakau di daerah ini. Sebuah nama yang berasal dari Irlandia atau Skotlandia. Keren.

Jam 6 pagi kami tiba di Ketapang. Alhamdulillah. Barang – barang diturunkan dan seorang Bapak yang baik hati membantu mencarikan porter untuk membawa barang ke kapal. 3 orang porter, tarifnya 10 rb per orang.

Kami langsung membeli tiket dan naik ke feri. 6000 saja per orang, murah. Barang – barang kami taruh di dekat tangga, dan kami naik ke dek, mencari tempat duduk, sarapan nasi rames 5000 per bungkus. Cici lapar tapi sayang lauknya pedas. Feri yang kami tumpangi pagi itu kosong, leluasa kami bisa memilih tempat duduk. Dan tidak menunggu lama kami segera berangkat. Di luar pemandangan indah, langit biru, air laut hijau tosca, puncak Raung di kejauhan, sempurna.

DSC06294

Selat Bali, puncak Raung di belakang sana

Cici sudah aktif kembali, sibuk berjalan – berjalan mengelilingi kapal. Dan tetep protes karena lapar, untung susu kotak bisa jadi pengganjal yang ampuh.

Seorang Bapak yang duduk di bangku depan mengajak kami mengobrol, dia menanyakan tujuan kami dan tanpa basa-basi menawari kami untuk menumpang truknya sampai Denpasar. Hmmm ide bagus, setidaknya di Denpasar akan lebih mudah. Lagipula kami tidak yakin akan dapat sewaan mobil di Gilimanuk. Kami masih menunggu kabar dari teman yang mencarikan tiket pesawat Denpasar – Mataram, walaupun harapan kecil, tapi harus dicoba kan.

DSC06297

keluarga kecil dan bahagia, 1 anak cukup

Sebelum merapat saya segera turun ke bawah dengan Pak supir truk, loading barang – barang dulu ke atas truk. Kerjabakti kami berdua menaikkan barang ke atas truk, berat juga ternyata. Beberapa saat kemudian Cici dan Ria menyusul turun, dan kami bertiga duduk manis di dalam truk.

DSC06300

siap – siap naik truk

Jam 8.30 pagi waktu Indonesia Tengah, kami tiba di Gilimanuk. Sedih juga mengingat perbedaan waktu 1 jam antara Indonesia Barat dan Indonesia Tengah, kami sudah kehilangan waktu 1 jam. Tapi akhirnya terlupakan, tujuan berikutnya adalah tiba di Denpasar secepat mungkin.

DSC06303

truk yang kami tumpangi – Pelabuhan Gilimanuk

Perjalanan menuju Denpasar cukup menyenangkan, kami melawati Taman Nasional Bali Barat, menyejukkan. Cici kegirangan melihat banyak sekali sapi dan monyet di pinggir jalan. Karena mengantuk akhirnya saya dan Cici tertidur, tinggallah Ria mengobrol dengan Pak Supir, sepanjang jalan haha.

Pencarian tiket pesawat nihil, semua flight ke Mataram penuh. Alternatif kedua adalah kapal cepat, saya pesan tempat via telpon di Perama. Tetapi kapal terakhir berangkat jam 1 siang dari Padang Bai, lagi – lagi sepertinya tidak mungkin. Baiklah, pilihan terakhir adalah menyebrang dengan feri dari Padang Bai menuju Lembar.

Jam 1 siang kami tiba di terminal Mengwi, Denpasar. Ria akhirnya berpisah dengan Pak Supir yang terus menerus berusaha meminta no telpon Ria haha. Barang – barang kembali diturunkan dan kami berpisah dengan Pak Supir truk disini. Terimakasih banyak Pak.

Kami menyewa 1 APV untuk mengantar kami ke Padang Bai, 250 rb sekali jalan, tarif resmi, APV baru. Di Denpasar kami sempatkan mampir ke Mc Donald, sebelum anak kecil ini menjadi galak hoho. Di dalam mobil Cici kegirangan : ” Enak Bunda, sekarang adem” haha. Betul juga.

382008_4876027509582_1462279596_n

dari truk ke APV baru

Jam 2.30 siang kami tiba di Padang Bai. Panas terik. Tanpa banyak berharap saya menanyakan jadwal kapal cepat kepada para calo yang menyambut kami. Sudah berangkat jam 1 siang tadi, dan kapal berikutnya besok pagi. Bye bye fast boat.

Kami segera membeli tiket feri di loket, 35 rb untuk dewasa. Tawar -tawaran harga lagi sama porter, dan deal di harga 50 rb. Bergegas kami menuju feri, berharap bisa langsung naik dan berangkat. Ternyata tidak ada kapal. Melayanglah harapan bisa tidur siang di kapal, kami masih harus menunggu kapal tiba dari Lembar, entah kapan.

Akhirnya kami duduk – duduk saja di pintu masuk, menunggu. Cici seperti biasa mondar – mandir ngga bisa diam. Sedangkan kita berdua sudah mengantuk berat.

Jam 4.30 sore, kapal yang dinanti tiba. Bergegas kami naik ke kapal, memblok 1 deret bangku dan lagi – lagi menunggu. Kapalnya ngga berangkat – berangkat. Ria sudah ketiduran, Cici juga ikut tertidur dan mau ngga mau saya bangun menjaga barang – barang.

Bukan saja lambat berangkat, ternyata kapal ini juga lambat sangat. Padahal laut tenang, harusnya bisa ngebut kan. Benar – benar ujian kesabaran.

Jam 10.30 malam, akhirnya kami tiba di Lembar..Pulau Lombok, akhirnya. Porter – porter kembali membantu kami membawa barang dan mencarikan mobil. 100 rb sewa mobil dari Lembar ke hotel kami di Mataram. Perut lapar, mengantuk, pengen mandi tapi bahagia..kami tiba di Lombok πŸ™‚

Jam 11.15 malam, kami sudah di kamar. Seharusnya 24 jam sebelumnya kami sudah tiba disini, turun dari pesawat yang membawa kami dari Jakarta . Setidaknya kami hanya terlambat 24 jam saja.

Perjalanan selanjutnya di Lombok dan Bali penuh cerita. Belajar dari pengalaman sebelumnya kami tidak mau lagi ketinggalan pesawat Denpasar – Jakarta. Syukurlah walau jalanan macet, ribut lagi sama porter dan lainnya lainnya, kali ini kami tidak terlambat πŸ™‚

DSC06415

see you in the next trip

Lesson learned :

  1. Ketinggalan pesawat itu ga enak, rugi waktu dan pastinya rugi uang, jadi berdoalah yang banyak agar ga kena macet dalam perjalanan ke bandara, agar ga ketemu porter yang sukanya rebutan trolley dan berdoalah agar pesawat delay sesuai keperluan kita.
  2. Web check in kadang sangat berguna, sempatkan untuk web check in agar tinggal drop bagasi saja di bandara
  3. Pilihlah teman seperjalanan yang asik, yang bisa jadi baby sitter, jadi porter sekaligus menjadi teman
  4. Every journey has their own story, nikmati sajalah πŸ™‚

#Trip with friends, November 2012

Advertisements

One thought on “Ketinggalan Pesawat dan Half Road Trip Jakarta – Mataram

  1. Pingback: Puncak Rinjani yang Selalu di Hati | three of us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s