Pulau Pari, Kepulauan Seribu

It’s a heaven.

Blessing in disguise sebenarnya. Seperti diceritakan sebelumnya di sini, kami berangkat ke Pulau Pari tanpa rencana ataupun reservasi. Siap tempur saja pokoknya, kalau perlu numpang menginap di rumah Pak Lurah. Beruntung kami berkenalan dengan seorang bapak di Pelabuhan Kali Adem (maaf lupa namanya), beliau memberi no telpon Pak Udin, salah seorang guide di Pulau Pari. Melalui percakapan telpon  kami mendapat informasi bahwa hampir semua homestay sudah tersewa, tetapi beruntung kami mendapat satu rumah dengan kipas angin yang bersedia menampung kami, alhamdulillah.

Perjalanan dari Kali Adem ke Pulau Pari dengan KM Kerapu hanya 45 menit saja, ombaknya besar, dan kapal melaju sangat cepat. Anak – anak kegirangan, seperti dalam kora – kora katanya. Kami sempat mampir ke beberapa pulau, Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang baru kemudian tiba di Pulau Pari. Tujuan akhir kapal ini adalah Pulau Pramuka.

Jam 8.45 pagi kami tiba di Pulau Pari. Dermaganya kecil dan sederhana saja, tetapi beberapa bagian sudah memakai dermaga baru seperti di Muara Angke. Bertepatan dengan kedatangan kami ada beberapa kapal kayu reguler yang juga akan sandar. Ramai sekali. Kapal kayu dari Muara Angke ternyata cukup besar, konon kapasitasnya bisa sampai 400 orang.

kapal kayu reguler tiba di Pulau Pari

kapal kayu reguler tiba di Pulau Pari

Pak Udin sudah menunggu kami di dermaga, nampaknya beliau adalah salah seorang guide yang cukup sibuk dan laris. Client-nya banyak. Beliau menawarkan paket lengkap, di dalamnya termasuk paket makan prasmanan dan juga snorkeling trip. Okelah Pak. Harganya tidak jelas padahal, berulang – ulang kami tanyakan dan Pak Udin hanya menjawab : 350 rb Bu untuk 10 orang. Hah murah amat.

Seorang anak kecil kemudian mengantar kami ke homestay. Jalan kaki kurang lebih 10 menit dari dermaga melewati jalan kecil yang menghubungkan Pulau Pari bagian barat dan timur. Menurut situs Wisata Pulau Pari, yang saat ini disebut sebagai Pulau Pari sebenarnya adalah gugusan pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu. Di dalam gugusan pulau ini terdapat 4 buah pulau yang menemani Pulau Pari. Sebuah pulau dengan luas 40, 32 hektar dengan jumlah penduduk 900 jiwa atau 265 KK.

Nama Pulau Pari sendiri diambil dari nama ikan pari yang konon dulu banyak terdapat di sini. Awalnya Pulau Pari ini digunakan sebagai tempat pelarian pekerja paksa asal Tangerang di masa penjajahan Belanda. Tak heran banyak penduduk Pulau Pari yang mengaku asli dari Tangerang. Mereka memilih tinggal selamanya di pulau karena kehidupan disini lebih damai. Setuju Pak.

Di sepanjang jalan berjejer homestay-homestay sederhana. Di pulau ini tidak terdapat fasilitas hotel atau penginapan seperti di Pulau Tidung atau pulau besar lainnya. Penduduk setempat membuka rumahnya untuk pengunjung, masih sangat sederhana, sedikit saja yang telah dilengkapi AC.

Homestay yang kami tinggali milik keluarga Pak Masduki, rumah sederhana sekali. Tidak mengapa. Cici memberi nama rumah biru, ya karena semua cat rumahnya berwarna biru yang menarik. Rumah kecil ini disekat menjadi dua bagian, kami mendapat jatah ruang tamu, kamar mandi dalam dan  2 kamar tidur. Cukuplah untuk 1 malam, yang terpenting ada kamar mandi dengan air mengalir. Di depan rumah ada teras yang cukup luas, juga balai – balai bambu di halaman. Menyenangkan, seperti berlibur di rumah saudara di kampung.

Anak – anak tentu tidak sabar bermain ke pantai. Penuh semangat mereka mengajak kami bergegas ke pantai. Pasir Perawan namanya, cukup berjalan kaki kurang dari 5 menit dan kami menemukan surga tersembunyi, pantai pasir putih, air laut yang tenang dan hutan mangrove yang tidak terlalu lebat.

semangat pergi ke pantai, Pasir Perawan

semangat pergi ke pantai, Pasir Perawan

Saat kami datang pantai masih sepi, hanya ada sekelompok pengunjung yang sedang mencari tempat berkemah, serombongan besar pegawai yang sedang melakukan team building dan sisanya kami. Berkemah di pantai ini tampaknya menyenangkan, tidak terlalu panas karena banyak terdapat pohon dan juga ada fasilitas MCK yang memadai. Anak – anak langsung jatuh cinta dengan pasir lembut, air yang tenang dan dangkal. Orang tua tidak terlalu khawatir melepas anak – anak bermain di air.

pasir putih Pantai Putri Perawan, Pulau Pari

pasir putih Pantai Putri Perawan, Pulau Pari

Sayangnya yang namanya sampah ternyata ada saja dimana – mana. Susahnya lagi ternyata sampah – sampah itu banyak yang tenggelam di air. Setiap melangkah saya menemukan kemasan makanan, plastik – plastik pembungkus. Jumlahnya cukup banyak, sayang sekali memang, saya yakin sampah ini sampah bawaan dari Jakarta. Di sekitar pantai sendiri cukup bersih, terdapat beberapa tempat sampah besar yang tersebar merata.

Menjelang siang kami kembali ke rumah biru. Sambil menunggu kiriman makan siang kami memasak beberapa makanan kecil untuk anak – anak. Ternyata semua kelaparan. Untunglah Mas Susilo datang dengan gerobaknya, membawa makan siang kami yang ternyata sangat lengkap : nasi putih, ikan tongkol bumbu kuning, tempe dan tahu goreng, sayur asam, kerupuk, sambal dan ada buahnya juga. Ternyata makanan untuk tamu di Pulau Pari ini dikelola oleh masyarakat bersama – sama. Jadi ada sekelompok Ibu – Ibu yang bertugas memasak makan siang, ada yang kebagian memasak makan malam dan ada juga pemuda seperti Mas Susilo yang bertugas mendistribusikan makanan ke rumah – rumah. Hebat ya, dengan pengaturan seperti ini tentunya akan lebih efektif dan tidak akan ada persaingan antar guide. Ketika masuk pantai tadi kami hanya perlu menyebutkan bahwa kami tamu Pak Udin, tidak perlu membayar lagi. Pengaturan sederhana yang efisien.

menu makan siang kami, semua lahap

menu makan siang kami, semua lahap

makanan habis dan gerobak jadi mainan :)

makanan habis dan gerobak jadi mainan 🙂

Selepas makan siang laut sudah menanti. Snorkeling time. Anak – anak sudah bersiap dengan life jacket dan kami bergegas menuju dermaga. Ternyata yang mau snorkeling bukan kami saja, sepertinya hampir semua pengunjung di Pulau Pari akan snorkeling siang itu. Dermaga penuh sesak. Karena kami hanya ber 10 maka kami akan bergabung dengan tamu lain sesama client Pak Udin. Serombongan anak muda yang ternyata menginap di depan homestay kami.

Paket snorkeling ini sudah termasuk sewa life jacket, googles, snorkel dan fin. Murah meriah sekali. Kebetulan kami membawa perlengkapan snorkeling sendiri, sehingga kami hanya menyewa life jacket saja seharga IDR 10,000 per pcs.

di dalam kapal untuk snorkeling

di dalam kapal untuk snorkeling

Perjalanan menuju spot snorkeling kurang lebih 30 menit saja, kebetulan cuaca sangat cerah, ombak tidak terlalu besar, langit biru, menyenangkan sekali. Kapal kami tambat di tengah laut, tampak beberapa kapal lain sudah tiba terlebih dahulu. Banyak pengunjung lain yang sudah terlebih dahulu tiba dan asik bersnorkeling. Air lautnya cukup bersih, tidak ada arus, banyak ikan dan terumbunya lumayan cantik. Sayangnya para guide sebaiknya memulai kampanye save terumbu dari sekarang. Banyak pengunjung yang dengan santainya berdiri di atas terumbu, mungkin hanya karena mereka tidak tahu.

kapal untuk snorkeling

kapal untuk snorkeling

Selesai snorkeling kami sempat berkunjung ke Pulau Tikus, kapal sandar dan kami sempat bermain – main di pantai. Cukup menyenangkan, airnya tidak sebersih di Pari, tapi anak – anak senang berenang disini. Overall not to bad. Sore yang menyenangkan di laut.

cici dan bunda

cici dan bunda

Menjelang sore kami kembali ke Pulau Pari, anak – anak kembali bermain pasir dan berenang di Pasir Perawan. Pantai tetap ramai, dan semakin banyak orang yang datang dengan bersepeda.

Malam harinya kami mendapat kejutan dari Pak Udin, ternyata semua peserta tour (tidak hanya dari client Pak Udin) akan dijamu dengan BBQ khas Pulau Pari. Tepat sesudah makan malam kami kembali ke Pasir Perawan, ternyata pantai sudah penuh, flysheet digelar, ramai sekali. Mas Susilo datang membawa satu baki ikan bakar, lezattt, bumbu kecap cabe rawitnya pas, ikan yang segar. Sayang kami sudah kekenyangan makan malam, ikan yang lezat itu tidak habis kami makan.

Minggu pagi kami kembali bermain ke pantai. Anak – anak kembali bermain pasir, berenang, tidak ada bosannya. Kami sempat mencoba naik sampan kayu mengelilingi hutan mangrove. Seru juga. Sampan kecil itu cukup untuk 3 orang, harga sewa sampan IDR 35,000, sudah termasuk pengemudi kapal. Di sisi terluar mangrove kami sempat berhenti dan turun ke air, dangkal saja, hanya sebatas lutut.

Pagi di Pasir Perawan

Pagi di Pasir Perawan

the bolang

the bolang

Akhir pekan yang mengesankan bagi kami semua di Pulau Pari. Saya sangat terkesan dengan kekompakan warga disini, usaha pengelolaan wisata secara swadaya terbukti berhasil. Tidak tampak saling sikut antar guide atau pedagang asongan yang berebut menawarkan dagangan. Pulau Pari menjadi menarik dengan segala kesederhanaannya.

Sekitar jam 1 siang kami kembali ke Jakarta, kali ini dengan kapal kayu reguler. Sesak sekali. Ketika kapal Cinta Alam datang para calon penumpang bergegas naik, tidak aman sebetulnya. Sampai – sampai ada insiden tas yang jatuh ke laut.

Kami mendapat tempat duduk lesehan di dek bawah, penuh sesak, sulit sekali sekedar untuk duduk atau menggerakkan badan. Untungnya anak – anak tidak terpengaruh. Mereka tetap asik bermain sampai akhirnya semua ketiduran 🙂

bagian dalam Cinta Alam,  kapal kayu reguler dari Muara Angke

bagian dalam Cinta Alam, kapal kayu reguler dari Muara Angke

tetap bermain dengan ceria

tetap bermain dengan ceria

Perjalanan Pulau Pari – Muara Angke sekitar 2 jam. Hari panas terik di Muara Angke. Kami naik bajaj ke Kali Adem, melewati pasar ikan yang berbau khas, tempat penjemuran ikan yang sesak..sisi lain Jakarta, ibukota Indonesia.

Selamat tinggal Pulau Pari, definitely will be back.

full team

full team

Our expenses to Pulau Pari 

  • Tiket KM Kerapu (Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke – Pulau Pari) IDR  42,000 per orang
  • Sewa homestay untuk 10 orang, 2 hari 1 malam, kipas angin IDR 350,000 per rumah 
  • Tiket masuk Pantai Pasir Perawan IDR     2,000 per orang
  • Paket makan prasmanan  IDR   20,000 per orang per 1x makan
  • Snorkeling trip IDR    35,000 per orang
  • Sewa snorkel, fin, googles, life jacket IDR    40,000 per orang
  • Sewa sampan IDR    35,000 per sampan
  • Guide IDR 200,000 untuk 1 grup
  • Tiket kapal kayu reguler (Pulau Pari – Muara Angke) IDR   35,000 per orang
  • Bajai dari Muara Angke ke Kali Adem  IDR     5,000 per orang

Di Pulau Pari banyak terdapat warung yang menjual makanan ringan dan minuman, harganya cukup wajar. Sebagai contoh minuman botol IDR 8,000 saja, air mineral 600 ml IDR 2,500, teh botol IDR 3,000. Penjual makanan cukup banyak, dagangannya mirip : mie instant, bakso, gorengan. Kelapa muda harganya cukup mahal, IDR 10,000 dan jarang ada. Konon karena di Pulau Pari sendiri tidak ada pohon kelapa. Sebaiknya membawa extra makanan untuk anak – anak, makanan prasmanan yang disajikan sebagian besar adalah menu dewasa. 

Guide di Pulau Pari :

  • Pak Udin    : 081310137711

  • Pak Susilo : 081929724145

Advertisements

13 thoughts on “Pulau Pari, Kepulauan Seribu

  1. hi!,I like your writing so much! share we be in contact more approximately your article on AOL?
    I require an expert on this space to unravel my problem. May be that’s you! Looking forward to see you.

    • Hi Rene,
      Sepertinya memang 350 rb per orang kalau 1 kamar sendiri atau ber 2. Kemarin kami sebetulnya tidak dapat tempat karena full. Akhirnya kami dapat 1 rumah untuk rame – rame. Paket lainnya kami beli terpisah dengan Pak Udin seperti makan, snorkeling dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s