[Where to Stay] in Penang : East Indies Mansion

Salah satu cita – cita saya kalau nanti udah ga jadi ibu ibu kantoran adalah jadi pemilik Boutique Hotel. Hotelnya kecil saja, beberapa kamar, bangunan cantik dan pastinya harus very personal services. Jadi boleh kan ya kalau saya sering studi banding boutique hotel :).

East Indies Mansion di 25 China Street menjadi pilihan akomodasi kami di George Town. Menginap 1 malam saja sedangkan 2 malam lainnya kami menginap di Batu Feringghi (gratis  hehe). Pesan lewat Agoda setelah membaca review di Trip Advisor. Selama ini saya lebih memilih Trip Advisor untuk referensi karena reviewnya lebih jujur dan detail. Sedangkan untuk booking memang Agoda juaranya, terkadang harga Agoda lebih murah daripada pesan langsung di website hotel.

DSC00093

East Indies – The House of Koh Lay Huan

East Indies adalah tipikal peranakan mansion yang bangunannya memanjang ke belakang sebagai taktik untuk membayar pajak perumahan yang murah. Di jaman kolonial, pajak perumahan dihitung berdasarkan lebar tanah/bangunan, bukan berdasarkan luas. Itulah sebabnya tampak depan rumah – rumah ini tampak kecil, padahal memanjang ke belakang dan luas.Lokasinya di China Street yang juga dikenal sebagai Tua Kay atau jalan utama dalam dialek Chinese Hokkien. Walking distance kemana saja, Little India, Lebuh Armenian, dan heritage icon lainnya di George Town. Konon China Street adalah satu dari jalan jalan tertua di George Town yang pertama kali dibangun ketika Francis Light tiba di Penang.

streamimage

25 China Street – East Indies Mansion, a wide 3 bay residence Ukuran dan arsitekturnya menunjukkan kekayaan pemilik dan posisinya yang terhormat di masa itu. Source : http://25chinastreet.com/album/video_gallery.php

East Indies adalah Penang Heritage, dahulunya adalah kediaman dari Koh Lay Huan, founding father of Penang. Dibangun pada tahun 1846 kemudian direstorasi pada tahun 2005. Semua dokumentasi restorasinya bisa dibaca disini. Membacanya membuat saya menyesal (lagi) kenapa dulu ngga jadi kuliah Antropologi haha.

Koh Hay Luan awalnya membawa 500 Chinese dan Malays dari Kedah ke Penang, hal ini membuatnya diangkat sebagai Kapitan China of Penang oleh Francis Light. Keluarga Koh sangat dihormati dan memegang peranan besar dalam sejarah Penang. Putra tertuanya pernah menjadi governor of Kuala Kedah yang menemani Raffles ke Singapura saat Singapura mulai dibangun pada tahun 1819. Tak heran Koh memiliki rumah yang besar, pada zamannya inilah rumah terbesar dan terbagus yang ada di George Town. A wide 3 bay residence dengan jelas menunjukkan kekayaan pemilik dan posisinya yang terhormat di masyarakat.

Selepas Koh, mansion ini dimiliki oleh Chung Keng Kwee. Chung adalah Hakka Kapitan China of Perak dan pemimpin Hai San society yang bergerak di usaha pertambangan di Perak, salah satu dari Big 5 Hokkien Families di Penang. Tapi kekayaan memang tidak pernah abadi, mansion ini kemudian berpindah tangan lagi, Ong Boon Keng adalah pemilik berikutnya, sahabat dekat dari Big 5, pemimpin Penang Opium Farm ! Setelah Ong meninggal dunia, mansion ini kemudian dijual  kepada Hu Qing Xiang. Sejarah jual belinya belum berakhir, pada tahun 1930 rumah ini dibeli oleh seorang Indian Muslim, pengusaha dan Philanthropist yang kemudian mengubah mansion ini menjadi hostel untuk para pekerja imigran dari India. Free accommodation untuk para imigran sampai mereka bisa mendapatkan pekerjaan, kalau sudah dapat kerja, silakan pindah 🙂

Pada tahun 2001 bangunan ini dibeli oleh The Wilkinsons yang menggunakannya sebagai rumah tinggal dan mulai menelusuri sejarah mansion ini. Mulai dari sini sejarah panjang terdokumentasikan dengan baik, menyenangkan membacanya. Ditemukan juga fakta bahwa mansion ini pernah digunakan sebagai pabrik kecap, terlihat dari adanya granite courtyards yang pernah digunakan untuk meletakkan gentong gentong untuk fermentasi kacang kedelai menjadi kecap.

DSC00094

bagian dalam mansion yang menyenangkan

East Indies Mansion adalah tipikal rumah Fujian Chinese, rumah 2 lantai yang dibagi ke dalam 3 bagian yang dipisahkan oleh area terbuka : front, central dan back settlement. Rumah idamanku hoho. Setiap bagian dihubungkan dengan balconi samping yang juga  digunakan sebagai tempat duduk – duduk santai, baca buku, minum teh sore – sore. Sangat cantik dengan detail yang sangat baik. Furniture dan dekorasi yang digunakan pasca restorasi tetap mewakili gambaran orang kaya Peranakan di masanya.

DSC00098

center and back settlement dilihat dari lobby hotel (front settlement) lovely courtyard in between, my favourite

balcony side, cocok untuk afternoon tea

balcony side, cocok untuk afternoon tea

buat ngantar masakan Lebaran ke rumah mertua

buat ngantar masakan Lebaran ke rumah mertua

pajangan dinding yang cantik

pajangan dinding yang cantik

Ok, cukup sudah tentang sejarah. Kalau diteruskan bisa – bisa saya tidak berhenti menulis hehe. Kamar yang kami book adalah standard room, paling murah seharga MYR 183. Kami baru check in jam 7 malam dan receptionist hotel -seorang Filipino yang baik hati dan juga Akak Manager berulang kali meminta maaf karena mereka terpaksa menempatkan kami di kamar terakhir yang mereka punya, di back settlement. Menurut mereka ini adalah standard room mereka yang paling sederhana, ho ho terus terang sebetulnya tidak apa – apa, karena ternyata kamar kami juga bagussss banget walau tanpa jendela. No complaint at all.

our lovely room

our lovely room

Kamar kami tidak seberapa luas, tanpa TV, tanpa jendela tapi semuanya menyenangkan. Meja tua berbahan jati, harum sereh dari aroma theraphy sampai bunga – bunga di tempat tidur yang membuat Cici terheran – heran. ” Kenapa ada bunga di tempat tidur Bunda ? ” haha. Yang lebih seru lagi, ternyata ada tempat tidur kedua di kamar ini, letaknya di atas, jadi harus naik tangga sedikit. Cici suka sekali, bolak balik dia naik turun tangga hanya untuk mengintip ke bawah dan turun lagi. Lovely.

Breakfast pun menyenangkan, walau sebenarnya kamar kami tanpa breakfast entah kenapa kami malah ditawari breakfast gratis, ruang makannya tepat di depan kamar kami. Dapur pun dapur terbuka tepat disebelah ruang makan. Serasa liburan di rumah saudara. Dan berkali – kali saya bilang dengan suami : pengen punya rumah kaya gini hahaha.

DSC00011

nona kecil sarapan, kelaparan 🙂

Overall, exceed our expectation dan highly recommended. Thank you East Indies Mansion. Btw barusan nengok website mereka, ternyata kamar – kamar yang lain super duper cakepnya. Haduh masa ke Penang lagi ya biar bisa nginap di sini dan berasa jadi baba dan nyonya lagi.

East Indies Mansion

East Indies is equipped with a total of seven rooms. They provide 3 standard rooms, 2 deluxe rooms and 2 family rooms.

25 China Street-George Town-Penang 10200

Email: reservations@eastindies.com.my

Advertisements

2 thoughts on “[Where to Stay] in Penang : East Indies Mansion

  1. Oh my! We had the same interest as well. I always dream of having and run a small boutique hotel too if i don’t work as an Engineer. How I wish I can do that!

    Keep on dreaming! Berangan angan itu kan percuma aja. Hehehe. Bisa jadi kenyataan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s