[Menyapa Tambora] Part 1

200 years ago, in the island of Sumbawa, on April 10, 1815, the giant Tambora volcano began to erupt. The eruption intensified and continued afterward and it has been noted as the most powerful in recorded history. The exploded rock and ash formed a giant eruption column that dimmed the sunlight, lowered temperatures and some experts believe this led to global cooling and devastating effect almost worldwide. The period is also known as 1816 “The year without summer” it is unequivocally offers priceless lessons for us today.

Rencana pendakian ke Tambora sebetulnya bisa dikategorikan sebagai salah satu ke-impulsifan saya. Seperti biasa, salah satu agenda tahunan liburan keluarga kami adalah naik gunung, ide awalnya acara naik gunung ini dilakukan setiap tahun di bulan Juli, ketika Cici berulang tahun. A birthday gift for our little daughter.

Naik gunungnya kemana atau sama siapa sebetulnya tidak ada patokan pasti. Awalnya rencana tahun ini juga belum jelas, masih berganti – ganti antara Binaiya atau Tambora atau Latimojong. Ketiga gunung ini dipilih karena medan menuju puncak-nya tidak terlalu susah, memudahkan Cici untuk berjalan sendiri sepanjang pendakian. Tahun kemarin kami pergi ke Semeru, tetapi hanya camping di Ranu Kumbolo karena menurut kami jalur ke Puncak Semeru berbahaya untuk Cici. Tahun ini kami mengharapkan Cici bisa berjalan sendiri, beratnya sudah 20 kg, hampir sama dengan berat ransel Porter. Jadi lebih baik mendaki gunung yang mudah saja.

Sampai suatu hari di awal Januari 2015, seorang teman (baca: senior) di kantor lama mengirim email. Menanyakan rencana naik gunung kami tahun ini dan sekaligus mengajak kami ke Tambora. “Mumpung ijin dapur sudah turun May, ini naik gunung terakhir sebelum pensiun !”. Teman saya tersebut memang sudah sepuh, tahun depan pensiun. Tapi semangat dan sehatnya tidak kalah dengan anak muda. Badan sehat langsing, terjaga dari hasil lari sore setiap hari dari kantor ke rumah.

Akhirnya sepakat, kami akan mendaki Tambora di awal Mei 2015. Beberapa minggu setelah peringatan 200 tahun Tambora menyapa dunia. Pertimbangannya awal Mei itu ada long weekend cukup panjang di Malaysia, juga di Indonesia. Dan project drilling sumur xx mudah – mudahan selesai di bulan April, jadi saya boleh cuti panjang, semoga. Cici sepertinya tetap harus bolos sekolah, tetapi ga papa deh, masih TK.

Rencana awal tidak banyak yang akan ikut naik gunung, tetapi akhirnya ada 16 orang yang bergabung. Terdiri dari 12 laki – laki dan 5 wanita dengan kisaran umur 6 tahun – 60 tahun. Ada 5 expatriate yang bergabung dan semuanya pendaki serius. Teman lainnya ada  yang sering mendaki gunung, ada juga yang senang berolahraga tapi jarang/tidak pernah mendaki gunung dan pastinya ada juga yang jarang/tidak pernah berolahraga dan tidak pernah mendaki gunung. Naik ke Tambora karena diajak suami juga ada 🙂

nyaris full team - Muhammad Salahudin airport Bima

nyaris full team – Muhammad Salahudin airport Bima

3 bulan saja yang tersisa. Saya dan Helmy kerja bakti mengumpulkan informasi dan menyiapkan rencana perjalanan. Kami berdua belum pernah mendaki Tambora dan terbatas sekali informasi yang tersedia di dunia maya. Beberapa teman pernah mendaki Tambora tetapi informasi yang tersedia juga tidak lengkap. Terkesan ribet ya (bukan May kalau ngga ribet haha). Kami menginginkan jalur yang tidak terlalu susah – pertimbangannya adalah kondisi fisik group kami yang bervariasi tetapi jalurnya tetap menantang dan ada juga batasan lainnya, waktu yang kami punya hanya 3 hari.

Jalur pendakian Gunung Tambora - dimodifikasi dari buku Tambora Menyapa Dunia yang diterbitkan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia

Jalur pendakian Gunung Tambora – dimodifikasi dari buku Tambora Menyapa Dunia yang diterbitkan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia

Dari informasi yang kami kumpulkan, ada 4 jalur pendakian Tambora yang bisa digunakan :

Desa Pancasila, jalur pendakian sejuta umat alias jalur yang paling umum digunakan. Sesuai namanya, titik awal pendakiannya di Desa Pancasila, Kabupaten Dompu. Jalur ini dikenal dengan jalur yang panjang tapi landai. Diperlukan minimal 2D1N untuk pendakian menuju puncak dan kembali dengan jalur yang sama, tetapi untuk perjalanan santai disarankan untuk mendakinya dalam 3D2N.
Pro : di Desa Pancasila mudah mencari jasa porter dan guide, terdapat juga homestay yang dikelola oleh Bang Ipul, jalur pendakian jelas dengan tanda jalur yang terpasang baik. Tersedia sumber air di beberapa tempat.
Cons : jalur ini panjang dan membosankan, naik – turun dengan jalur yang sama mungkin tidak menyenangkan bagi sebagian orang.

Doropeti, jalur pendakian  ini jarang digunakan. Dikenal dengan jalur yang asik dan seru karena landscape yang bervariasi, jarak mendatarnya sedikit lebih pendek dari jalur Pancasila tetapi secara keseluruhan lebih susah dari jalur Pancasila. Diperlukan minimal 3D2N untuk pendakian menuju puncak dan kembali melalui jalur Pancasila.
Pro : landscape yang menarik dan bervariasi, dimulai dari ladang jagung, hutan tropis, dan savanna. Pendaki yang mendaki Tambora dari jalur Doropeti akan mendapat 2 puncak : Puncak Doropeti dan Puncak Pancasila, juga akan mendapat kesempatan berjalan di sepanjang bibir kaldera Tambora.
Cons : sumber air sangat terbatas dan bergantung musim, harus membawa ekstra air dari bawah, jalur pendakian tidak jelas karena jarang digunakan dan belum ada tanda jalur. Diperlukan Guide yang mengenal betul daerah Doropeti. Kendala lainnya tidak banyak Guide yang mengenal jalur Doropeti.

Doro Ncanga, dikenal sebagai jalur pendakian eksekutif. Jalur paling pendek dan paling tidak melelahkan, terdapat Jeep 4WD yang bisa mengantar kita ke Pos 3 – tempat untuk berkemah satu malam sebelum mendaki ke bibir kaldera (3 jam perjalanan saja). Cukup 2D1N perjalanan.
Pro : jalur short cut yang cocok dan aman untuk semua orang, dengan waktu terbatas tentunya ini jalur yang paling oke.
Cons : sewa jeep relatif mahal dan belum ada jalur yang menghubungkan Pos 3 dengan puncak tertinggi Tambora atau Puncak Pancasila.

Kawinda Toi, jalur ini baru kami ketahui setelah kami mendaki Tambora. Konon inilah jalur paling asik dan paling jarang digunakan. Baru – baru ini dilakukan Ekspedisi NKRI di jalur pendakian Kawinda Toi, dan para peneliti LIPI menemukan enam spesies baru yang tergolong endemik. Jadi bisa dipastikan jalur ini sebetulnya paling seru.

Nah jadinya jalur pendakian mana yang kami pilih ya ?

bersambung ke Part 2 🙂

Advertisements

13 thoughts on “[Menyapa Tambora] Part 1

  1. Pingback: Menyapa Tambora – Part 2 | three of us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s