Kuala Lumpur Survival Tips 2 : Mencari Sekolahan

Tulisan saya sebelumnya di Kuala Lumpur Survival Tips 1 ternyata lumayan membantu beberapa orang hehe. Ada beberapa email masuk yang menanyakan beberapa hal, terutama mengenai masalah mencari sekolah.

Sebetulnya saya pernah juga menuliskan hal yang sama di personal blog saya : Mencari Sekolahan, tetapi tulisan ini saya tulis ketika kami masih di Indonesia. Dibuat berdasarkan riset via internet plus informasi dari beberapa teman yang sudah lebih dulu tinggal di KL.

Jadi bisa dibilang ini sebagai update ya, dan postingan panjang ini mungkin hanya menarik untuk teman – teman yang memang sedang mencari sekolahan disini. Maaf kalau kepanjangan 🙂

Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, sebetulnya sama saja seperti di tempat lain, mencari sekolahan itu gampang – gampang susah. Cocok-cocokan, mulai dari jarak tempuh ke sekolah, kurikulum, bahasa pengantar dan yang paling penting ya pasti biayanya. Ngga seperti jaman dulu ya, sepertinya jarang sekali orang tua muda pusing nyariin sekolahan SD untuk anaknya.

Sekolah – sekolah di Malaysia bisa dibagi menjadi 3 golongan besar : national school yang disebut Sekolah Kebangsaan, Private School dan International School.

Sekolah Kebangsaan

Sekolah Kebangsaan alias sekolah negri di Malaysia itu umumnya bagus dan gratis (walaupun katanya tetap ada saja yang harus dibayar seperti buku dan bahan pelajaran lainnya). Di Kuala Lumpur saya banyak melihat sekolah – sekolah kebangsaan dengan bangunan fisik yang bagus, fasilitas olahraga yang lengkap, minimal dari penampakan luarnya bagus. Sayangnya mereka masih mengutamakan orang lokal dahulu, so Malaysian adalah 1st priority. Bahkan saya pernah melihat spanduk di beberapa sekolah yang terang-terangan menulis bahwa sekolahnya Malaysian only. Ada chance untuk orang asing masuk, tapi tentu saja sangat terbatas. Karena Sekolah Kebangsaan bahasa pengantarnya adalah campuran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris, untuk Chinese dan Tamil Schools tentu saja ada tambahan muatan Bahasa Mandarin dan Tamil.

Bukit_Nanas_Convent_(Primary_2),_Golden_Triangle,_Kuala_Lumpur

Bukit Nanas Convent Primary School Kuala Lumpur – via 

Tahun ajaran untuk Sekolah Kebangsaan juga berbeda dengan Indonesia dan negara lain pada umumnya, mulainya di Januari. Agak merepotkan untuk pendatang, kalau pindah negara atau pulang ke Indonesia terpaksa harus naik atau turun kelas, menyesuaikan dengan semester yang sedang berjalan.

Selain itu, saya dengar ada juga aturan yang mensyaratkan siswa untuk memilih sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya, karena nanti urusannya dengan bis sekolah dll. Etnis juga berpengaruh disini, karena ada 3 macam sekolah kebangsaan khusus untuk etnis tertentu : Chinese, Tamil dan Melayu. Walaupun sepertinya ada juga sekolah campur yang terbuka untuk semua etnis.

Istilah sekolah favorit juga ada, dan proses masuknya juga susah. Salah satunya adalah Bukit Nanas Convent Primary School, sekolah berprestasi yang banyak menjadi incaran para orang tua. Teman saya di kantor senang sekali waktu putrinya diterima disini, padahal mereka tinggal di Kajang (sekitar 1 jam perjalanan dari KL) yang berarti setiap pagi putrinya akan ikut ke sekolah bersama dia berangkat kerja. Sepulang sekolah sang putri akan diantar ke rumah transit dan kemudian pulang bersama – sama ke rumah menjelang Maghrib, long day, tetapi itu ternyata hal biasa disini.

Oiya ada satu hal menarik tentang anak – anak Sekolah Kebangsaan yang muslim. Seorang teman bercerita bahwa anaknya setiap hari pulang ke rumah saat Maghrib, bersamaan dengan dia pulang kerja. Ternyata mereka harus pergi ke sekolah agama selepas makan siang. Sekolah Rendah Agama menjadi kewajiban untuk anak – anak muslim, bagus juga ya, mungkin itu sebabnya saya jarang melihat anak – anak berkeliaran di sore hari. Kebanyakan pergi ke Sekolah Agama.

Teman saya yang Chinese beda lagi. Setiap hari dia menjemput anaknya dari sekolah dan kemudian mengantarnya untuk berlatih Gymnastic di Bukit Jalil sampai sore hari, ini terjadi setiap hari. Ngga heran olahraga disini maju sekali, hiks.

pengalaman-kena-denda-di-sekolah-kena-denda7

Pelajar Sekolah Rendah Agama – via

Private School 

Sekolah swasta dengan kurikulum nasional. Cukup banyak juga pilihannya dan harganya sama saja seperti di Indonesia, mahal. Beberapa sekolah ada yang memulai pelajarannya di bulan Juli – Agustus dan ada juga yang dimulai di bulan Januari.

Kebanyakan private school yang saya tahu menggunakan kurikulum Singapura dengan tambahan pelajaran lainnya. Kenapa tidak disebut International School karena mereka harus ikut UPSR alias Ujian Persamaan Sekolah Rendah yang setara dengan UN atau Ebtanas di jaman saya sekolah dulu :p

Ada beberapa private school yang jadi favorite, yang saya tahu ada ADNI dan Khalifah School yang keduanya menggunakan kurikulum Singapura dengan muatan Islam yang lebih banyak.

International School

Kalau private school sudah mahal, international school pastinya lebih mahal lagi :(. Dan kurikulumnya juga bermacam – macam. Ini beberapa kurikulum yang saya tahu :

British National Curiculum
Sesuai namanya, ini adalah sekolah yang menganut kurikulum British. Ada banyak sekali pilihan : Alice Smith, British International, Cempaka, Garden International, banyakkkkk. British National Curiculum memang merupakan kurikulum standard yang banyak dipakai oleh sekolah – sekolah di dunia. Jadi kalau pindah In Sha Allah ngga bingung deh, anak akan mudah menyesuaikan. Kelebihan lainnya adalah soal cara mengajar : “Teaching and learning is enquiry based with an emphasis on problem solving and aims to build up pupils’ abilities as learners”. Salah satu point positif yang saya pelajari dari rekan – rekan kerja asal UK, mereka memang cenderung menjadi seseorang yang senang belajar ya, rasa ingin tahunya besar, tahu segala macam dan senang sekali berdiskusi alias cerewet haha.

North American Curiculum
Sesuai namanya ini adalah kurikulum Amerika. Di Kuala Lumpur tidak terlalu banyak pilihannya, beberapa sekolah favorit adalah  ISKL dan Mont Kiara. Saya tidak tahu persis apa bedanya dengan British Curiculum, tetapi hasil google testimoni orang tua yang Non American, sepertinya sekolah ini cenderung santai, tuntutan akademik tidak terlalu besar. Mereka lebih percaya belajar dari proses dan pengalaman. Asik ya.

Australian Curiculum
Hanya satu sekolah di Kuala Lumpur dengan Australian curiculum, AISM namanya. Tidak banyak yang saya ketahui mengenai kurikulum ini. Tapi katanya kalau mau anak kita jadi seneng olahraga, masukin aja deh ke sekolah ini. Dijamin mereka jadi suka banget kegiatan outdoor, sport maniac..Australia banget.

Islamic Curiculum
Nah mungkin namanya kurang pas ya, karena sebetulnya sekolah – sekolah ini juga mengkombinasikan kurikulum lainnya. Satu yang pasti, porsi Islamic studiesnya jauh lebih banyak. Bahasa pengantarnya juga bahasa Inggris. Ada beberapa sekolah : International Islamic School, International Modern Arabic School, dan beberapa lainnya.

International Baccalaureate
Last but not least pastinya IB alias International Baccalaureate kurikulum yang sempat heboh di Indonesia. Saya juga tidak tahu banyak tentang IB, kutipan dari web Fairview School seperti ini : “The International Baccalaureate is a programme designed to equip students with the necessary information and skills to excel in an ever-changing and increasingly globalized world. It emphasizes unique learning approaches developed to prepare students for a lifetime of learning”.  Bottom line-nya adalah unique learning approaches. Berdasarkan cerita teman – teman sekolah dengan IB relatif santai, tapi banyak project. Anak kelas 2 SD saja sudah dituntut harus bisa menggunakan power point untuk presentasi. Mereka banyak menggunakan teknologi.

Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

Ada juga lho sekolahan Indonesia di Kuala Lumpur, SIKL namanya. Sesuai namanya, ini memang sekolah Indonesia, kurikulum Indonesia dan guru-gurunya juga orang Indonesia. Seragam pun masih merah putih hehe. Kalau memang berencana untuk kembali ke Indonesia dan masuk sekolah negri, rasanya SIKL adalah pilihan yang tepat. Siswa SIKL juga harus mengikuti UN dengan soal yang sama dengan anak -anak di Indonesia.

20130320_114524

SIKL – via

Jadi sekolah mana yang kamu pilih ? Sebaiknya memang melakukan riset terlebih dahulu, kemudian coba membuat janji bertemu dengan Principal-nya. Dulu kami melakukan kunjungan dulu ke 2 sekolah sebelum akhirnya memutuskan. Penting untuk berdiskusi dengan Principal juga melihat secara langsung fasilitas dan keadaan di sekolah. Kita dan anak kita yang lebih tahu, mana sekolah yang cocok. Untuk referensi, ada beberapa website yang memuat testimonial orang tua mengenai sekolah -sekolah (mostly for international school) di Malaysia, di antaranya : Expat Exchange, dan International School Review.

Setiap sekolah umumnya akan mengadakan tes masuk, setelah diputuskan diterima orang tua harus membayar uang pangkal, dan juga uang deposit. Deposit ini bisa diambil nanti ketika anak lulus/pindah sekolah.

Happy hunting ya, pastikan anak mencintai sekolahnya 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Kuala Lumpur Survival Tips 2 : Mencari Sekolahan

    • ada Adhya, ada sekolah Indonesia, disini guru-gurunya SIKL juga import dari Indonesia lho 🙂

      dulu waktu di apartement lama ada tetangga yang anaknya sekolah disana, suka geli kalau sama-sama nunggu jemputan, soale bajunya Merah putih, langsung nostalgia jaman SD

  1. duhh pengen balik kecil lagi trus sekolah di Int’l school yang British National Curiculum 😀
    wahh iya ya mbaaa, olahraga di sana keren ya….kita ketinggalan jauh hikss

    • samaaa..asik kayanya, sekolahan British School di sini bajunya keren banget lho Dit

      olahraga disini emang didukung banget oleh banyak pihak, sekarang aja Cici pelajaran olahraga 3x seminggu, dan kuperhatiin di setiap sekolah pasti ada lapangan bola, keren memang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s