Acute Mountain Sickness – AMS

“My head is pounding and I feel like throwing up,” Grace said. “We needed another day to acclimatize,” Dana said. “You’d spend a week at every camp and still not be ready to go up”

To the  Summit of Denali 1970, Arlene Blum – Breaking Trail

AMS atau acute mountain sickness alias penyakit akut di gunung tentunya bukan hal asing bagi para penggiat kegiatan di alam bebas, khususnya para pendaki gunung.

Saya tertarik membahas mengenai AMS ini setelah mendapat pertanyaan dari sahabat saya Jeng Feri yang baru saja mendaki Gunung Kinabalu. JF bercerita bahwa ia sempat mengalami gejala AMS di Laban Rata – saat itu ia baru sampai di penginapan dan tiba-tiba merasa pusing dan kehilangan nafsu makan. Akhirnya JF memutuskan tidur dan alhamdulillah keesokan harinya ia berhasil mencapai puncak Kinabalu dan kembali ke kaki gunung dengan selamat. Betulkah JF terkena AMS dan bagaimana mencegahnya ?

Jawabannya betul, besar kemungkinan JF mengalami gejala AMS. Sehari – hari JF tinggal di dataran rendah, nyaris mendekati 0 mdpl. Dalam 24 jam terakhir JF melakukan perjalanan dengan pesawat antar negara, kurang tidur dan berjalan kaki dari ketinggian ~ 800 mdpl ke ketinggian ~ 3,300 mdpl dalam waktu 5 jam saja. Badan lelah dan perbedaan ketinggian yang cukup ekstrim, keduanya meningkatkan resiko AMS dialami JF. Keputusan JF untuk tidur sudah benar, perlahan badan beradaptasi dan gejala AMS menghilang dengan sendirinya.

Acute Mountain Sickness or AMS is the effect on humans caused by exposure to low oxygen pressure at high altitudes.

AMS biasa mulai muncul di ketinggian 8,000 kaki atau 2,440 m dpl. Walaupun ada juga sebagian besar orang yang baru merasakan AMS di ketinggian di atas 10,000 kaki atau 3,048 m dpl (kurang lebih di antara puncak Gunung Pangrango dan Gunung Ciremai, Jawa Barat).

Respon seseorang akan berbeda, ditentukan oleh 3 hal utama : ketinggian (altitude) , kecepatan naik (rate of ascent) dan  ketahanan tubuh itu sendiri (susceptibility).

Dari beberapa sumber saya mencoba mensarikan gejala-gejala AMS dan cara mengatasinya.

Mild AMS

Mild AMS biasanya tidak mempengaruhi aktifitas harian kita, dan gejalanya biasanya akan menghilang sendiri setelah cukup aklimatisasi. Sakit kepala, insomnia, anorexia, mual dan muntah, badan lemas yang secara umum biasa kita sebut : kecapean naik gunung, karena kurang persiapan. Padahal ini merupakan gejala – gejala AMS yang perlu kita sadari. Disarankan untuk beristirahat cukup di ketinggian yang sama, atau turun apabila memungkinkan, cukup minum dan apabila gejala berlanjut sebaiknya menunda pendakian untuk memulihkan kondisi badan.

Moderate AMS

Pada tahapan moderate AMS pendaki akan mulai mengalami sakit kepala hebat, kesulitan berkoordinasi, bernafas pendek – pendek (bedakan dengan pendaki malas yang ga pernah olahraga ya hehe), dan badan lemas, kehilangan energi. Disarankan untuk segera turun ke ketinggian yang lebih rendah, beristirahat dan bila diperlukan bisa dibantu dengan Oksigen. Acetazolamide dan Dexamethason dapat diberikan untuk membantu mengatasi gejala AMS yang dialami. Obat-obatan ini membantu kita bernafas lebih cepat sehingga mampu memetabolisme oksigen lebih banyak, mengurangi resiko kekurangan Oksigen. Disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut 1 hari sebelum menuju ketinggian dan dilanjutkan selama minimal 5 hari di ketinggian.

High Altitude Cerebral Edema (HACE)

Duh mulai serem kalau udah ngomongin HACE. Banyak sekali cerita pendaki – pendaki gunung terkenal yang meninggal karena HACE dan HAPE. Selain gejala mild dan moderate AMS maka gejala HACE yang mudah dikenali adalah halusinasi dan lelah yang berlebihan. Di tahapan ini penderita mulai mengalami kebingungan, masih ingat cerita pendaki di film Everest yang tiba-tiba melepaskan carabinernya dari tali jalur ? itu adalah salah satu gejala HACE yang bisa dikenali, atau cerita lainnya tentang pendaki salju yang tiba-tiba merasa kepanasan. Penderita HACE harus segera dibawa turun, konon obat paling manjur hanyalah turun secepat mungkin. Dexamethasone bisa diberikan dengan dosis 8 mg, dilanjutkan dengan 4 mg per 6 jam.

High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)

Tingkatan paling parah dari AMS, pada tahapan ini penderita sudah mengalami kerusakan otak. Selain halusinasi, gejala lainnya adalah batuk kering yang parah dan terkadang mengeluarkan darah, dada seperti tertekan dan sesak nafas. Seperti HACE, penderita HAPE harus segera dibawa turun, Dexamethasone dengan dosis yang sama juga bisa diberikan dalam perjalanan turun.

Hmm serem kan, tetapi tentu saja ada cara untuk mengatasinya. Hal paling utama adalah aklimatisasi, mendaki dengan perlahan, cukup minum, cukup istirahat dan yang pasti ketahui kemampuan diri sendiri dan teman seperjalanan anda. Selain itu tentu persiapkan perjalanan dengan baik : fisik, perbekalan, perlengkapan dan obat – obatan.

dsc06761

istirahat cukup di perjalanan

Selamat mendaki gunung ya dan kembali dengan selamat 🙂

 

Advertisements

3 thoughts on “Acute Mountain Sickness – AMS

  1. titin dong teh, ke gunung gede aja 10 jam hahaha
    payah banget, dah 😀

    nyante patunggu-tunggu.
    pulangnya kaki berasa gak napak, musti dituntun.
    kayanya siy justru kecapekan di jalan yg kelamaan itu deh.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s